Showing posts with label inspirasi pembaca. Show all posts
Showing posts with label inspirasi pembaca. Show all posts

Thursday, November 18, 2010

Selamat Jalan Permataku

SELAMAT JALAN PERMATAKU
oleh : Anjar Galih. K


"Dan Aku akan menguji kamu sekalian dengan suatu cobaan, supaya dengan cobaan itu dapat terbukti siapa diantara kamu sekalian yang berjuang dan siapa yang sabar" (Q.S Muhammad: 31)

Aku dan istriku adalah keluarga yang bahagia, banyak rizki dan penuh rahmat. Hampir enam tahun kami menikah dan selama itu pula kami hidup bahagia tanpa cekcok dan pertengkaran. Apalagi sejak kami tahu bahwa Allah akan memberikan adik bagi Amalia Fauziah Rohmah, anak pertama kami.

Sembilan bulan kemudian kami sibuk dengan segala persiapan untuk menyambut kelahiran anak ke-2 kami, mulai dari nama, ranjang bayi, popok dan lainnya. Menurut hasil USG jenis kelaminnya adalah laki-laki. Kami pun sudah mempersiapkan nama, Muhammad Syarif Salahuddin Rasyid. Sampai akhirnya tiba hari melahirkan bagi istriku. Saat itu, Senin malam tanggal 20 Agustus 2001, istriku merasa perutnya mulai kejang. Pagi harinya ia kontrol ke rumah sakit. Dokternya menyarankan agar hari itu juga istriku masuk ke ruang persalinan, karena perkiraan melahirkan sudah lewat 10 hari. Namun istriku minta ditunda sampai hari Rabu karena akan bicara dulu denganku.

Friday, August 20, 2010

Antara Pahlawan dan Teroris

Antara Pahlawan dan Teroris
Oleh: Adam Muhammad

Akhir-akhir ini, kata “Teroris” berseliweran di telinga kita. Tak hanya berseliweran, bahkan kalau kita baca koran, majalah atau tabloid teroris sudah menjadi santapan sehari-hari. Dan kalau anda punya televisi di rumah, teroris juga menjadi berita utama yang terus diulang-ulang. Lebih jauh lagi ada televisi yang menayangkan adegan demi adegan serangkain aktifitas terorisme mulai dari survey tempat pengeboman, latihan, saat kejadian pengeboman hingga proses penangkapan para teroris itu.

Yang membuat saya sedih adalah, akhirnya muncul stigma bahwa terorisme itu muncul dari ajaran agama Islam. Stigma itu semakin subur dengan diberitakannya bahwa para teroris itu banyak yang bertitel “ustadz” yang mengenakan pakaian bersimbol Islam, istrinya pun mengenakan cadar. Komplit sudah.

Menjalani Hidup dengan sabar dan syukur

Menjalani Hidup dengan sabar dan syukur
Oleh: abu oryza

Tak terasa, anak sulung saya sudah hampir berusia empat tahun. Perasaan saya masih baru saja melangsungkan pernikahan. Bahkan sering saya tidak yakin dengan kehidupan ini, karena saya merasa masih banyak kekurangan yang ada pada diri saya. Saya masih merasa terlalu egois dengan diri saya. Saya masih merasa belum pantas menjadi seorang suami dan abi bagi dua orang anak.

Namun, bagaimanapun juga saya harus tetap menjalankan peran yang diamanahkan Allah kepada saya ini. Mestinya saya bersyukur yang tak terhingga karena dikaruniai seorang istri yang begitu cantik dan menyayangi saya dan keluarga. Saya pun dikarunia seorang anak lelaki dan perempuan. Pendek kata kalau menurut orang lain mungkin hidup saya sempurnalah sudah. Memang ya, saya sempat membandingkan dengan keluarga lain yang terkadang sudah puluhan tahun namun belum juga mereka dikaruniai seorang anak. Sungguh kasihan mereka, begitu batin saya.

Namun, ternyata dalam menghadapi maghligai rumah tangga memang perlu perjuangan yang maha dahsyat. Pantas saja Rasulullah mengatakan bahwa menikah adalah setengah dari agama. Karena setidaknya menurut saya, ada dua hal berat yang harus kita pertahankan mati-matian dalam rumah tangga.

Saturday, June 19, 2010

Lihatlah Sekelilingmu

Oleh: Ratna Yusuf

Pernahkah anda melihat seekor ikan? Ia sungguh nampak bahagia dengan kehidupannya. Ia berenang ke sana dan kemari. Semua kebutuhannya sudah terpenuhi di dalam air. Bernafas, ia menggunakan insang. Tak perlu ke darat untuk bisa menghirup udara, ia dengan leluasa menghirup udara itu dengan sistem pernafasan yang memang sudah sesuai dengan habitatnya.

Karena memang habitatnya yang hanya ada di air, rasanya ia tidak pernah memikirkan tentang kehidupan darat. Ia sudah puas dengan kehidupannya. Tanyalah ikan itu tentang kata “kering” niscaya ia tidak akan mampu memahami konsep kering. Bagaimana dia akan mengerti dengan kata kering kalau yang ia ketahui selama ini adalah bahwa semua ikan yang hidup itu haruslah berada di air. Tak pernah terbersit kata kering sedikitpun dalam dirinya.

Tuesday, June 15, 2010

Menjadi jiwa merdeka dengan puasa

Oleh: Adam Muhammad, Pimpinan Eiffel Indonesia

MERDEKA! Kata itu begitu sering dilontarkan masyarakat saat awal-awal kemerdekaan bangsa ini tercapai. Saat proklamasi kemerdekaan di proklamirkan oleh Soekarno, segera bahagia meliputi hati seluruh warga Indonesia. Ketika mereka berjumpa dengan kawan kata MERDEKA! Senantiasa mereka pekikkan. Sungguh sebuah spirit yang luar biasa.

Agustus ini kembali kita mengenang sebuah momen yang bersejarah. Namun, tentu saja peringatan kemerdekaan ini diharapkan dapat memupuk kembali semangat kita untuk benar-benar menjadi bangsa yang merdeka. Adapun upacara dan lomba-lomba agustusan hanyalah sebuah ungkapan rasa syukur kita ke hadirat Allah. Lebih dari itu, seharusnya kita mengambil spirit para founding father negara kita ini yang telah begitu rela menyumbangkan pikiran, harta bahkan nyawa mereka demi kemerdekaan bangsa ini.

Friday, June 11, 2010

Melihat ke dalam diri

Oleh: adam muhammad, wakil ketua forum lingkar pena jawa timur

Suatu ketika, Azzam pergi ke kandang ayamnya di belakang rumah. Ia meneliti apakah ada sesuatu masalah. Ia mengecek satu demi satu ayamnya. Sekitar 3 jam ia berjibaku dengan ayam dan kotorannya. Ia begitu asyik hingga ia tidak menyadari sudah cukup lama ia berada di dalam kandang itu. Wajar saja, ia memang begitu hobby dengan ayam.

Setelah selesai dengan pekerjaannya di kandang, Azzam segera mencuci tangannya dan bergegas masuk ke dapur. Namun ia sungguh heran dengan bau dapurnya. Mengapa bau dapurnya persis dengan bau yang ada di kandang ayamnya. Bau kotoran ayamnya kok sampai menyebar ke dapur. Sungguh aneh, padahal biasanya tidak demikian.

Lalu ia pun masuk ke kamar tidurnya, namun bau itu masih saja ia cium. Bau kandang ayam itu. “Mengapa bau ini bisa sampai menyebar ke kamar tidurku?” hati Azzam kembali heran. Segera ia mengecek seluruh ruangan yang ada di rumahnya. Setiap sudut ruangan ia telisik, namun tetap bau itu tidak mau pergi.

Tidak puas dengan apa yang dia cium, ia pun pergi ke depan rumah. Di halaman itu lagi-lagi ia masih mencium bau yang sama. Bahkan ketika ia mengecek rumah para tetangga, bau itu pun masih saja mengganggunya. “Ada apa ini?” Ia mencoba bertanya pada istrinya. Istrinya hanya tersenyum dan berkata, “Mas, bukan ruangan ini yang bau kotoran ayam. Tapi lihatlah di cermin, ada tahi ayam yang nempel di hidung mas itu!” Azzam pun melihat dirinya di cermin, dan tersenyumlah ia mengetahui apa yang terjadi.

Begitulah orang yang memiliki hati yang kotor, kepada siapapun ia seringkali melihat suatu keburukan. Ia menyangka semua orang itu buruk. Ketika ada orang berhasil, ia berkata bahwa keberhasilan orang itu pasti didapat dengan cara yang curang. Ketika ada orang yang gagal, ia berkata bahwa orang itu memang bodoh jadi wajarlah kegagalan menghampirinya.

Pendek kata, orang yang memiliki hati yang kotor merasa tidak ada masalah dalam dirinya. Justru ia merasa paling benar dan orang lainlah yang salah. Sungguh menyedihkan bukan? Padahal tidak ada masalah dengan orang lain, justru yang menjadi masalah adalah dirinya sendiri.

Untuk itulah terkadang kita perlu mengoreksi diri kita dengan bertanya kepada orang lain. Kita seharusnya bertanya dengan rendah hati apa ada yang salah dengan diri kita. Seharusnya kita khawatir ketika melihat bahwa kita merasa selalu benar dan orang lainlah yang salah. Jangan-jangan bukan orang lain yang salah malah diri kitalah yang bermasalah.

Nah, kalau sudah begini mengapa kita harus selalu merasa benar? Bukankah kita manusia biasa yang punya salah dan benar? Dan orang lain juga manusia yang punya salah dan benar juga? Jadi maafkanlah orang lain yang punya salah, mungkin ia sedang khilaf. Dan jangan merasa benar sendiri, mungkin justru kitalah yang salah. [ ] 

Bencanatainment

Oleh: Adam Muhammad
Pengurus Forum Lingkar Pena Jombang

Ketika anak manusia terlelap dalam tidurnya, air bah Situ Gintung di Tangerang Banten menerobos tanggul yang sudah rapuh dimakan usia. Pagi itu, jum’at 27 Maret 2009 sekitar pukul 4 pagi hari, suara menggelegar memecah kesunyian. Tiba-tiba saja air melimpah ruah “menghajar” masyarakat sekitar Situ Gintung. Suara jeritan terdengar di mana-mana. Suara serak bapak memanggil-manggil istri dan anak-anaknya. Si anak kecil berteriak histeris memanggil orang tuanya yang entah ke mana?

Jum’at pagi yang begitu kelam. Seratus lebih nyawa anak manusia terenggut. Puluhan lainnya dilaporkan hilang. Ratusan rumah tempat indah berteduh selama ini hancur porak poranda menyisakan kepingan-kepingan kayu tak bermakna. Orang tua kehilangan anaknya. Suami kehilangan istrinya. Istri harus menahan sedih ditinggal suaminya. Seorang bocah limbung ditinggal keluarganya. Air mata di mana-mana.

Tak lama kemudian, para kuli tinta dan kamera segera menyerbu tempat itu. Ini adalah berita yang luar biasa. Segera Situ Gintung menjadi headline di berbagai media massa. Potret kesedihan segera menyeruak dan membalut hingar-bingar kampanye pemilu legislatif. Air mata segera menular ke seluruh penjuru negeri. Kepiluan menyebar ke segenap hati mereka yang masih mempunyai hati nurani.