Showing posts with label pendidikan anak. Show all posts
Showing posts with label pendidikan anak. Show all posts

Thursday, November 18, 2010

Kata-kata Positif untuk si anak


Kata-kata Positif untuk si anak
bodoh sekali sih kamu, begitu saja salah, tidak bisa……
Aduh anak saya ini loh pemalu sekali……..
Dasar anak bandel……….

Beberapa orangtua pasti tidak asing dengan kalimat-kalimat di atas, beberapa orangtua yang lain mungkin pernah mendengar (dan mengucapkan) versi-versi lain dari kalimat sejenis. Versi-versi lain itu bisa kalimat negatif seperti contoh-contoh di atas dan bisa juga kalimat-kalimat positif yang berisi pujian tentang kehebatan-kehebatan anaknya. Orangtua yang "sempurna" dan sulit menerima kesalahan dan kekurangan, mungkin akan lebih banyak mengatakan kalimat-kalimat negatif, orangtua yang "adil" mungkin pernah mengatakan kedua jenis kalimat tersebut tergantung keadaan anak, sementara orangtua lain yang selalu berpikir positif dan hanya mau melihat hal-hal positif pada anaknya mungkin hanya mengatakan kalimat-kalimat positif.  Semua itu disebut sebagai labeling.

Labeling
Labeling adalah proses melabel seseorang. Label, menurut yang tercantum dalam A Handbook for The Study of Mental Health, adalah sebuah definisi yang ketika diberikan pada seseorang akan menjadi identitas diri orang tersebut, dan menjelaskan orang dengan tipe bagaimanakah dia. Dengan memberikan label pada diri seseorang, kita cenderung melihat dia secara keseluruhan kepribadiannya, dan bukan pada perilakunya satu persatu.

Saturday, June 19, 2010

Ketika si Kecil Protes

Pernahkah Anda diprotes oleh anak berusia 2,5 tahun? Mungkin pernah dengan secara langsung disampaikan kepada Anda. Bahkan bentuk protes tersebut diungkapkannya melalui obrolan si kecil dengan mainannya atau dengan orang lain, mungkin juga pernah, tapi Anda tidak merasakan sama sekali kalau si kecil sedang memprotes Anda.
Setiap anak punya cara yang berbeda dalam mengungkapkan rasa kurang sukanya dan juga protesnya kepada orang lain. Anak saya, Nana Chan 2,5 tahun, kemampuan berbahasanya berkembang dengan sangat baik, sehingga dia sudah dapat merangkai beberapa kata untuk bercerita dan juga untuk mengungkapkan pendapat-pendapatnya.
Suatu hari, ketika saya berada dalam kondisi kurang sehat, dan itu sangat berpengaruh dengan kondisi emosional saya. Tanpa sadar, sering sekali saya memarahinya selama seharian, dan juga menunjukkan wajah tidak senang saat ia mengganggu istirahat saya. Tidak seperti biasanya, Nana yang selalu mendapat perlakuan manis dari umminya, setelah seharian berinteraksi dengan wajah keruh saya, mungkin terasa juga ketidaksenangannya. Meskipun demikian, si kecil tetap terlihat bermain dengan ceria bersama mainannya.

Tuesday, June 15, 2010

Anakku Malas Belajar

Anak usia sekolah tentunya perlu untuk belajar, entah mengulang kembali pelajaran yang sudah diberikan di sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah (pr)  ataupun mempelajari hal-hal lain di luar pelajaran sekolah.  Pentingnya belajar tanpa harus dibicarakan panjang lebar pasti sudah disadari oleh seluruh orangtua.
Keluhan yang datang dari orangtua pada umumnya lebih banyak menyangkut anaknya terlalu banyak bermain daripada orangtua yang anaknya terlalu banyak belajar. Bahkan kalau anak sangat rajin belajar, pastilah orangtua memamerkannya ke orang-orang dengan nada bangga, "Iya loh Pak Dani, anak saya itu belajarnya rajin sekali. Pulang sekolah belajar, bangun tidur siang belajar, terus malam kalau bapaknya sudah pulang ya belajar lagi. Makanya anak saya itu pintar sekali, apa-apa tahu. Kadang-kadang malah saya yang nggak tahu".
Lain lagi kalimatnya jika anak terlalu banyak bermain, "Aduuuuuuh Pak Dani, anak saya ini kerjanya main melulu.... Siang main, sore main, malam juga main. Saya dan bapaknya kalau mau menyuruh dia belajar, harus teriak-teriak dulu, mengancam dulu, baru dia mau belajar. Pusing saya jadinya. Sudah begitu perkalian saja tidak hafal".  
Penyebab

Friday, June 11, 2010

Melatih Anak Disiplin

Disiplin dalam keluarga sebenarnya adalah pendidikan. Mendisiplinkan anak tidak identik dengan menghukum atau mengatur, namun lebih pada mengajarkan dan mendidik anak untuk berperilaku dan menerapkan nilai-nilai moral.
Sebagai bagian dari pendidikan dalam disiplin, masalah keteladanan sangat penting. Anak akan meniru apa yang dilakukan orang tua. Disiplin yang efektif menghemat kata-kata dan energi. Tanpa teriakan, nada tinggi, pukulan dan cubitan.

Begitu pula sejak balita, anak-anak tidak akan mengerti jika hanya disodorkan peraturan. Tidak boleh ini-itu, harus begini-begitu. Maka yang terjadi bahwa peraturan tinggal peraturan. Tidak pernah dipatuhi. Kuncinya adalah dengan menunjukkan kepada anak bagaimana ia harus berperilaku. Memberi contoh nyata.

Beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua adalah :
1. Memastikan bahwa perbuatan baik mendapatkan hadiah sedangkan perbuatan buruk tidak mendapat apa-apa.
Kedengarannya mudah dan biasa. Kita sering kali merasa malu dan terganggu ketika anak merengek-rengek meminta permen saat kita belanja. Dengan terpaksa kita mengabulkan permintaan anak. Padahal dari peristiwa ini anak belajar bahwa jika ia merengek pada saat berbelanja maka ia akan mendapatkan hadiah, sementara jika ia bertingkah manis ia tidak mendapat apa-apa. Begitu juga saat anak melakukan atau mengatakan sesuatu hal yang buruk. Para orang dewasa malah menjadikan anak sebagai pusat perhatian dan hiburan. Sehingga anak merasa bahwa jika ia melakukan hal yang sama maka ia akan merebut perhatian orang dewasa.