Antara Pahlawan dan Teroris
Oleh: Adam Muhammad
Akhir-akhir ini, kata “Teroris” berseliweran di telinga kita. Tak hanya berseliweran, bahkan kalau kita baca koran, majalah atau tabloid teroris sudah menjadi santapan sehari-hari. Dan kalau anda punya televisi di rumah, teroris juga menjadi berita utama yang terus diulang-ulang. Lebih jauh lagi ada televisi yang menayangkan adegan demi adegan serangkain aktifitas terorisme mulai dari survey tempat pengeboman, latihan, saat kejadian pengeboman hingga proses penangkapan para teroris itu.
Yang membuat saya sedih adalah, akhirnya muncul stigma bahwa terorisme itu muncul dari ajaran agama Islam. Stigma itu semakin subur dengan diberitakannya bahwa para teroris itu banyak yang bertitel “ustadz” yang mengenakan pakaian bersimbol Islam, istrinya pun mengenakan cadar. Komplit sudah.
Lebih sedih lagi, banyak orang muslim yang awam mempercayainya begitu saja. Hal ini membuat mereka khawatir kalau mereka memperdalam ajaran Islam dengan dalam maka kelak ia akan menjadi teroris juga. Mereka, para orang tua juga semakin protektif terhadap anak-anak mereka. Mereka melarang anak-anak mereka untuk memperdalam ajaran agama mereka sendiri, karena takut anaknya akan menjadi teroris. Hal ini dikarenakan tayangan media yang menyebutkan bahwa rata-rata para teroris itu adalah para pemuda.
Dan semakin terpuruklah ummat ini. Ummat yang sudah mulai jauh dengan amalan-amalan ajarannya sendiri, semakin jauh lagi dengan ajaran agamanya karena masalah ini. Masjid semakin sepi. Kajian-kajian keislaman juga semakin sepi. Mereka yang mengamalkan ajaran Islam sesungguhnya malah dicurigai sebagai seorang teroris. Oh, sungguh miris.
Lalu, apakah benar Islam mengajarkan teror? Pertanyaan yang mungkin agak konyol. Siapapun pasti akan menjawab tidak! Tak ada agama yang mengajarkan teror. Apalagi Islam, agama sempurna yang hanya agama ini akan diterima oleh Allah, tuhan sekalian alam. Saya hanya hendak mengutip beberapa ayat saja dari Alqur’an di surat Thaahaa: 42-44:
“Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, Sesungguhnya dia telah melampau batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”
Ayat di atas mengungkapkan perintah Allah kepada nabi musa a.s. dan nabi harun a.s. Sungguh mengagumkan, Fir’aun seorang raja yang sangat lalim bahkan harus dihadapi dengan kata-kata yang lembut. Bukannya langsung dengan kekerasan yang membabi buta.
Begitulah, sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita menyadari bahwa ajaran Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, bukannya teror bagi seluruh alam. Kalau pun diperlukan kekerasan untuk menjaga kestabilan ummat ini, itu bukanlah langkah awal. Itu adalah sebuah reaksi dari sebuah kedzoliman.
Jadi perjuangan saudara-saudara kita yang di palestina atau perjuangan ummat Muslim di Indonesia pada zaman penjajahan memang sudah sesuai dengan ajaran agama kita. Mereka berjuang dengan penuh keikhlasan untuk menyerang balik kaum yang amat dholim. Menyerang balik kaum yang telah menjajah negerinya. Itu pun dengan etika-etika peperangan (jihad) sesuai syari’at Islam. Merekalah para pahlawan sesungguhnya.
Sedangkan teroris yang membabi buta menyerang ke mana-mana tentu tidak berdasar sama sekali. Terlebih korban-korban yang berjatuhan juga kaum mukmin itu sendiri.
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa: 93).
Jadi, amatlah jelas sungguh beda antara pahlawan dengan teroris. Yang pasti kalau kita mengamalkan ajaran Islam dengan sesungguhnya maka kita berkesempatan menjadi pahlawan. Sedang teroris jelas-jelas bukan bagian dari ajaran Islam. Wallahu a’lam bish showab. [ ]

No comments:
Post a Comment