Oleh: Rahmadiyanti Rusdi
Cerita ini saya olah dari curhat sahabat saya beberapa saat lalu dalam sebua forum. Jujur saya merinding mendengarnya. Benar-benar mengingatkan kembali arati seorang ibu. Ibu, sosok yang disebut tiga kali oleh Rasulullah untuk dihormati sebelum ayah. Maka do’a ibu pun begitu dahsyat. Begitu pula amarahnya, sehingga kita pun sangat familiar dengan legenda Malin Kundang. Semoga bermanfaat buat para orang tua khususnya para ibu.
Sore itu aku baru pulang dari bekerja. Badan dan pikiran yang lelah karena persoalan menumpuk di tempat kerja, membuat kondisi emosiku agak labil. Sampai di rumah aku berharap tak mendapati hal yang membuat emosiku makin naik. Memiliki tiga anak yang sangat aktif seringkali membuat emosiku naik turun.
Keinginanku untuk mendapat ketenangan sejenak di rumah tak terkabul. Sore it sesampai di rumah, ketiga anakku belum mandi dan rumah berantakan. Meski memiliki khadimat, tapi khadimatku masih terlalu muda sehingga banyak pekerjaan yang tak tertangani dengan baik olehnya.
Sulungku yang berusia 6 tahun asyik dengan game. Putri keduaku dan si bungsu asyik bermain, berlari ke sana kemari. Emosiku mulai kembali naik. ”Ummi, Haris dari tadi disuruh mandi nggak mau...” lapor khadimatku. Haris masih asyik bermain game. ”Haris, mandi...” kataku berusaha lembut.
”Nggak mau ah!”
”Haris, mandi sama Mbak sekarang...” suaraku mulai keras. Haris bergeming. Rasa lelah, pikiran masih penuh ditambah khadimat yang tak becus dan si Sulung yang tak mau menuruti perintahku, makin menambah emosi di dada.




