Showing posts with label kolom ibu. Show all posts
Showing posts with label kolom ibu. Show all posts

Friday, August 20, 2010

Bu, Hati-hati dengan Amarahmu....


Oleh: Rahmadiyanti Rusdi

Cerita ini saya olah dari curhat sahabat saya beberapa saat lalu dalam sebua forum. Jujur saya merinding mendengarnya. Benar-benar mengingatkan kembali arati seorang ibu. Ibu, sosok yang disebut tiga kali oleh Rasulullah untuk dihormati sebelum ayah. Maka do’a ibu pun begitu dahsyat. Begitu pula amarahnya, sehingga kita pun sangat familiar dengan legenda Malin Kundang. Semoga bermanfaat buat para orang tua khususnya para ibu.
Sore itu aku baru pulang dari bekerja. Badan dan pikiran yang lelah karena persoalan menumpuk di tempat kerja, membuat kondisi emosiku agak labil. Sampai di rumah aku berharap tak mendapati hal yang membuat emosiku makin naik. Memiliki tiga anak yang sangat aktif seringkali membuat emosiku naik turun.
Keinginanku untuk mendapat ketenangan sejenak di rumah tak terkabul. Sore it sesampai di rumah, ketiga anakku belum mandi dan rumah berantakan. Meski memiliki khadimat, tapi khadimatku masih terlalu muda sehingga banyak pekerjaan yang tak tertangani dengan baik olehnya.
Sulungku yang berusia 6 tahun asyik dengan game. Putri keduaku dan si bungsu asyik bermain, berlari ke sana kemari. Emosiku mulai kembali naik. ”Ummi, Haris dari tadi disuruh mandi nggak mau...” lapor khadimatku. Haris masih asyik bermain game. ”Haris, mandi...” kataku berusaha lembut.
”Nggak mau ah!”
”Haris, mandi sama Mbak sekarang...” suaraku mulai keras. Haris bergeming. Rasa lelah, pikiran masih penuh ditambah khadimat yang tak becus dan si Sulung yang tak mau menuruti perintahku, makin menambah emosi di dada.

Siapapun Engkau

Oleh: Ummu Akna

Sepotong syair Ebiet G. Ade dalam nyanyian cintanya "Sebening Embun" membawa ingatan saya pada sepasang suami-istri, sahabat saya. Memandang perjalanan pernikahan mereka, seperti menatap beningnya embun pagi. Damai dan indah. Cinta mereka bukanlah cinta yang membara di awal jumpa. Tanpa proses cinta-cintaan seperti laiknya sepasang remaja, mereka cuma diikatkan oleh tujuan nikah sebagai ibadah. Semua menjadi sederhana dalam ketaatan pada Tuhannya. Dengan itulah mereka mampu menyatukan hati setelah pernikahan.

Si istri adalah seorang wanita yang cerdas dan mandiri. Karirnya sebagai seorang professional muda menanjak terus. Sejak sebelum menikah, ia memang cukup ambisius. Maka setelah ia menikah pada usia hampir tiga puluh, ia tak jadi surut dalam membina karir. Sementara itu, selayaknya orang-orang yang bergerak di kehumasan, ia pun punya banyak teman dan memiliki society sendiri.
Sementara si suami juga seorang yang cerdas. Dengan modal itulah ia tekun mengabdikan dirinya pada dunia penelitian dan pendidikan. Cenderung pendiam, si suami lebih suka membaca dan 'menyepi' di rumah ketimbang bicara-bicara dan making friends.

Friday, June 11, 2010

Ibu dan Kebebasan Kanak-kanak

Suatu hari, salah seorang teman bercerita via email pada saya. Begini kurang lebih ceritanya:
Alhamdulillah, hingga hari ini aku adalah ibu yang cukup berbahagia setelah kurang lebih tujuh tahun menikah. Aku punya tiga anak yang manis dan lucu-lucu. Suamiku juga memiliki peghasilan yang cukup untuk kebutuhan kami sekeluarga. Tambahan lagi, aku juga masih bekerja sebagai seorang customer service pada sebuah bank swasta nasional yang cukup besar. Aku adalah ibu kelas menengah di kota metropolis yang bahagia.
Akhir minggu, masih bisa kami lewatkan bersama untuk sekedar jalan-jalan ke mall atau makan-makan di suatu tempat. Tak penting murah atau mahal, yang penting adalah kami sekeluarga bisa menikmati kebersamaan.

Katanya Romantis?

Kata itu terlontar spontan dari suamiku. Komentar saat aku hanya adem ayem menanggapi kata-katanya yang mesra di sela kesibukanku.
Ketika masih lajang aku selalu menyukai semua hal yang berbau romantis. Semuanya, bacaan ataupun tontonan yang romantis selalu dengan penuh semangat kunikmati. Bahkan aku bisa menghabiskan waktu dengan tidak tidur hanya untuk menyelesaikan satu buku tebal, yang menurutku sangat romantis isinya. Sayang kalau terpotong, selain tentunya rasa penasaran akan ending-nya.
Bayangan memiliki suami yang romantis pun lekat di benak. Dia harus begini. Dia akan begitu, dia akan begini. Semua mimpi itu. Mimpiku akan sosok Sang Pangeran. Sekarang, mengenangnya aku jadi malu. Aku merasa konyol ketika mengingat betapa menggebu dan hausnya aku akan sebentuk keromantisan. Betapa tidak pada tempatnya untuk menikmati suatu keromantisan yang tidak semestinya. Betapa seringkali aku menjadi tidak membumi dengan semua keromantisan itu.
Mungkin kini seiring dengan waktu, kedewasaan dan sikap lebih realistis menghampiriku. Aku bisa lebih tenang dan tidak meledak-ledak lagi dalam mengeskrepsikan segalanya. Juga lebih pada haknya. Pun rasa sayang. Terlebih sekarang setelah memiliki suami.

Iq, Maafkan Mama!

Senja menjelang. Saat yang kunanti setelah sepanjang hari aku harus menghabiskan waktuku di luar rumah. Putra kecilku yang mulai tumbuh besar selalu terbayang di pelupuk mata. Senyumnya yang jenaka, wangi tubuhnya, tawa riangnya, celotehnya, semuanya membuat rinduku bertambah setiap waktu. Bocahku, dia yang selalu membuat aku tertawa walau beban begitu berat terasa. Sayangnya aku tak bisa menikmati kebersamaan ini setiap waktu. Minimal sembilan jam sehari kubelanjakan waktu tanpa kehadirannya. Aku memang tak seberuntung perempuan lain yang mampu mengambil keputusan untuk tinggal di rumah, menunggui anaknya setiap waktu. Aku masih memerlukan pekerjaan ini, untuk menunjang ekonomi keluarga kami.

Ups, tiba-tiba pikiranku melayang pada pekerjaan kantor hari ini. Begitu banyaknya kerjaan telah menyita hampir seluruh tenagaku. Dan membuatku tak sempat melontarkan senyuman. Sebentar lagi tukang ojek akan tepat berhenti di depan rumahku. Setelah kubayar, ojek pun pergi dengan raungan motornya yang memekakkan telinga. Dan, pintu pun terbuka.

"Mamaaa!!" Sebuah teriakan kecil menyambutku, senyum tulus pun mengiringi.
"Iq senang kalau Mama datang. Iq tadi main sama Yoga. Minum susunya empat kali," mulut mungil itu tak henti bercerita. Sementara aku yang sudah kelelahan dengan beragam masalah di kantor, seperti tak lagi punya tenaga untuk menanggapi sebagaimana harapannya.