Friday, June 11, 2010

Bencanatainment

Oleh: Adam Muhammad
Pengurus Forum Lingkar Pena Jombang

Ketika anak manusia terlelap dalam tidurnya, air bah Situ Gintung di Tangerang Banten menerobos tanggul yang sudah rapuh dimakan usia. Pagi itu, jum’at 27 Maret 2009 sekitar pukul 4 pagi hari, suara menggelegar memecah kesunyian. Tiba-tiba saja air melimpah ruah “menghajar” masyarakat sekitar Situ Gintung. Suara jeritan terdengar di mana-mana. Suara serak bapak memanggil-manggil istri dan anak-anaknya. Si anak kecil berteriak histeris memanggil orang tuanya yang entah ke mana?

Jum’at pagi yang begitu kelam. Seratus lebih nyawa anak manusia terenggut. Puluhan lainnya dilaporkan hilang. Ratusan rumah tempat indah berteduh selama ini hancur porak poranda menyisakan kepingan-kepingan kayu tak bermakna. Orang tua kehilangan anaknya. Suami kehilangan istrinya. Istri harus menahan sedih ditinggal suaminya. Seorang bocah limbung ditinggal keluarganya. Air mata di mana-mana.

Tak lama kemudian, para kuli tinta dan kamera segera menyerbu tempat itu. Ini adalah berita yang luar biasa. Segera Situ Gintung menjadi headline di berbagai media massa. Potret kesedihan segera menyeruak dan membalut hingar-bingar kampanye pemilu legislatif. Air mata segera menular ke seluruh penjuru negeri. Kepiluan menyebar ke segenap hati mereka yang masih mempunyai hati nurani.


Satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari berlalu. Berita Situ Gintung terus memborbardir masyarakat. Tak ketinggalan acara-acara infotainment juga dipenuhi tragedi Situ Gintung. Semua berduka, semua bersimpati namun tidak semua berempati.

Entah apa yang terjadi dengan bangsa ini. Mungkin sudah terlalu sering terjadi bencana dan kerusuhan hingga membuat berita-berita itu malah menjurus menjadi semacam “bencanatainment”. Mungkin karena seringnya masyarakat dicekoki oleh kepiluan, carut marut, masalah keluarga seseorang yang ditayangkan di infotainment membuat masyarakat sudah agak memudar kepekaan empatinya.

Lihat saja, tim SAR sampai kesulitan mengevakuasi para korban di Situ Gintung dikarenakan banyaknya masyarakat yang “hanya” ingin melihat hebatnya bencana itu dari dekat. Sungguh menyedihkan. Hal ini juga terjadi di bencana-bencana lainnya. Masih ingat bencana tsunami yang menghempaskan ratusan ribu nyawa? Ya, di sana juga dipenuhi orang yang “hanya” ingin melihat dari dekat para korban tanpa ingin menolong.

Bagi kita yang masih merasa punya hati nurani, seharusnya kita benar-benar harus bersedih dengan keadaan ini. Jangan sampai istilah “bencanatainment” yang tertulis ini benar-benar terjadi. Bencana-bencana yang menimpa orang lain menjadi hiburan bagi sebagian yang lain. Sungguh menyedihkan bukan? Jadi jangan hanya menonton dahsyatnya korban-korban itu. Bergeraklah. Bantulah mereka. Keluarkan apa pun yang kita punya. Mereka butuh pertolongan nyata dari kita, bukan hanya ucapan belasungkawa. Bagaimana? [ ]

No comments:

Post a Comment