Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Sunday, December 26, 2010

Tempayan Retak

Tempayan retak

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya.

Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, Karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannnya.

Thursday, November 18, 2010

Ketika Rangkaian Foto Terputus

Ketika Rangkaian Foto Terputus
Oleh: Ana Mariana

Saudaraku, marilah sejenak kita mengingat sang pemutus cita-cita. Ialah maut. Kematian yang menjemput kita secara tiba-tiba. Tak ada seorang pun yang tahu kapan ia akan menjemput kita. Tak seorang pun juga tahu dimana dan dalam kondisi apa ia akan menghampiri kita. Yang pasti, siapapun yang mengalaminya akan meninggalkan catatan amalnya masing-masing. Dan yang menyakitkan bagi siapapun adalah menutup usia dengan meninggalkan catatan yang buruk (su’ul khotimah). Aduhai, sungguh bahagia dia yang meninggal dengan meninggalkan catatan yang baik (khusnul khotimah). 

Friday, August 20, 2010

Hiduplah dengan cinta

Hiduplah dengan cinta

kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh selalu melihat ke  belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan. Pandanglah masa depan yang terbentang di depan. Memang kita boleh sekali-kali menengok ke belakang, menengok masa lalu kita. Tetapi hendaknya itu hanya sebagai bahan evaluasi semata. Ibarat kaca spion yang ada di sepeda motor, kita pergunakan ia seperlunya. Jangan terus melihat spion hingga lupa tidak melihat jalanan di depan. Kalau terjadi demikian maka menabraklah kita.

Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua sisi. Agar kita bisa menerima informasi lebih akurat dari dua sisi. Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah. Dengan mendengar dari kedua telinga inilah kita diharapkan mampu menjadi orang yang adil, tidak pilih kasih. Dengan kedua telinga inilah, diharapkan ketika kita menjadi seorang pimpinan menjadi pemimpin yang banyak mendengar lebih banyak segala keluh kesah dari rakyat yang dipimpin.

Tuesday, June 15, 2010

Allah lupa atau sengaja?

Oleh: sakti wibowo

Saat Allah menciptakan DVD Player bernama “kehidupan” ini, entahlah… apakah DIA lupa melengkapinya dengan dua tombol paling favorit yang sering kugunukan saat menonton DVD. Dua tombol itu adalah REWIND dan FAST FORWARD.

Hidup tak ubahnya film, ada bagian di mana aku tidak menyukai ceritanya. Ada pula bagian yang sangat kunikmati. Saat menemukan bagian yang menjemukan, yang kulakukan adalah memencet tombol FAST FORWARD untuk melompatinya, dan mencari bagian lain yang lebih menarik. Setelah kutemukan, aku menjalankan tombol PLAY normal.

Jika tak kutemukan juga sampai rolling credit title muncul menandakan film sudah selesai, yang kulakukan adalah memencet tombol REWIND dan mengulang bagian-bagian paling berkesan.

Friday, June 11, 2010

Kematian seperti apakah yang kita inginkan?

Setiap mendengar kata kematian, aku langsung teringat kurang lebih tujuh yang lalu, saudara seperjuanganku, seorang muslimah asal Jogja (sebut saja namanya Ami). Menurutku dia adalah seorang gadis muslimah yang nyaris sempurna. Dia baik, pintar, cantik, dan shalihah.

Suatu saat, kelompok kajian kami mengadakan acara kegiatan pelatihan mengurus jenazah atau yang biasa disebut Daruroh Janaiz. Bertempat di sebuah masjid di kawasan gunung putri Bogor. Kegiatan dimulai dari teori cara memandikan dan mengkafani jenazah, yang disampaikan oleh seorang Ustadzah.

Pada waktu praktek, timbullah masalah. Siapakah yang mau bersedia menjadi jenazah? Sementara panitia hanya menyediakan boneka, dan rasanya itu kurang afdhol. Dari seratus orang peserta tidak ada yang mau. Begitu juga dengan panitia penyelenggara (maksudnya kelompok kajian kami yang berjumlah delapan orang). Sebenarnya aku mau saja, tetapi tugasku sebagai register dan fotografer tidak mungkin kutinggalkan. Di saat-saat genting seperti itu, tiba-tiba Ami maju ke depan. ”Biar ana saja ukhti...” ujarnya mantap. ”OK. Tafadhol ukhti...” Aku mempersilahkan.


Thursday, June 10, 2010

Sang Juara


Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri.  Sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil iitu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak
sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab,
mobil itu buatan tangannya sendiri.