Oleh: adam muhammad, wakil ketua forum lingkar pena jawa timur
Suatu ketika, Azzam pergi ke kandang ayamnya di belakang rumah. Ia meneliti apakah ada sesuatu masalah. Ia mengecek satu demi satu ayamnya. Sekitar 3 jam ia berjibaku dengan ayam dan kotorannya. Ia begitu asyik hingga ia tidak menyadari sudah cukup lama ia berada di dalam kandang itu. Wajar saja, ia memang begitu hobby dengan ayam.
Setelah selesai dengan pekerjaannya di kandang, Azzam segera mencuci tangannya dan bergegas masuk ke dapur. Namun ia sungguh heran dengan bau dapurnya. Mengapa bau dapurnya persis dengan bau yang ada di kandang ayamnya. Bau kotoran ayamnya kok sampai menyebar ke dapur. Sungguh aneh, padahal biasanya tidak demikian.
Lalu ia pun masuk ke kamar tidurnya, namun bau itu masih saja ia cium. Bau kandang ayam itu. “Mengapa bau ini bisa sampai menyebar ke kamar tidurku?” hati Azzam kembali heran. Segera ia mengecek seluruh ruangan yang ada di rumahnya. Setiap sudut ruangan ia telisik, namun tetap bau itu tidak mau pergi.
Tidak puas dengan apa yang dia cium, ia pun pergi ke depan rumah. Di halaman itu lagi-lagi ia masih mencium bau yang sama. Bahkan ketika ia mengecek rumah para tetangga, bau itu pun masih saja mengganggunya. “Ada apa ini?” Ia mencoba bertanya pada istrinya. Istrinya hanya tersenyum dan berkata, “Mas, bukan ruangan ini yang bau kotoran ayam. Tapi lihatlah di cermin, ada tahi ayam yang nempel di hidung mas itu!” Azzam pun melihat dirinya di cermin, dan tersenyumlah ia mengetahui apa yang terjadi.
Begitulah orang yang memiliki hati yang kotor, kepada siapapun ia seringkali melihat suatu keburukan. Ia menyangka semua orang itu buruk. Ketika ada orang berhasil, ia berkata bahwa keberhasilan orang itu pasti didapat dengan cara yang curang. Ketika ada orang yang gagal, ia berkata bahwa orang itu memang bodoh jadi wajarlah kegagalan menghampirinya.
Pendek kata, orang yang memiliki hati yang kotor merasa tidak ada masalah dalam dirinya. Justru ia merasa paling benar dan orang lainlah yang salah. Sungguh menyedihkan bukan? Padahal tidak ada masalah dengan orang lain, justru yang menjadi masalah adalah dirinya sendiri.
Untuk itulah terkadang kita perlu mengoreksi diri kita dengan bertanya kepada orang lain. Kita seharusnya bertanya dengan rendah hati apa ada yang salah dengan diri kita. Seharusnya kita khawatir ketika melihat bahwa kita merasa selalu benar dan orang lainlah yang salah. Jangan-jangan bukan orang lain yang salah malah diri kitalah yang bermasalah.
Nah, kalau sudah begini mengapa kita harus selalu merasa benar? Bukankah kita manusia biasa yang punya salah dan benar? Dan orang lain juga manusia yang punya salah dan benar juga? Jadi maafkanlah orang lain yang punya salah, mungkin ia sedang khilaf. Dan jangan merasa benar sendiri, mungkin justru kitalah yang salah. [ ]

No comments:
Post a Comment