Setiap mendengar kata kematian, aku langsung teringat kurang lebih tujuh yang lalu, saudara seperjuanganku, seorang muslimah asal Jogja (sebut saja namanya Ami). Menurutku dia adalah seorang gadis muslimah yang nyaris sempurna. Dia baik, pintar, cantik, dan shalihah.
Suatu saat, kelompok kajian kami mengadakan acara kegiatan pelatihan mengurus jenazah atau yang biasa disebut Daruroh Janaiz. Bertempat di sebuah masjid di kawasan gunung putri Bogor. Kegiatan dimulai dari teori cara memandikan dan mengkafani jenazah, yang disampaikan oleh seorang Ustadzah.
Pada waktu praktek, timbullah masalah. Siapakah yang mau bersedia menjadi jenazah? Sementara panitia hanya menyediakan boneka, dan rasanya itu kurang afdhol. Dari seratus orang peserta tidak ada yang mau. Begitu juga dengan panitia penyelenggara (maksudnya kelompok kajian kami yang berjumlah delapan orang). Sebenarnya aku mau saja, tetapi tugasku sebagai register dan fotografer tidak mungkin kutinggalkan. Di saat-saat genting seperti itu, tiba-tiba Ami maju ke depan. ”Biar ana saja ukhti...” ujarnya mantap. ”OK. Tafadhol ukhti...” Aku mempersilahkan.
Seolah-olah menjadi jenazah sungguhan, Ami rela tubuhnya dibungkus dengan kain kafan. Ia diikat tali dan diberi kapas. Aku segera mendokumentasikan momen-momen tersebut. Tiba-tiba dadaku berdesir. Kutatap waja Ami yang pucat pasi. Aku seperti melihat Ami yang lain. Ami yang sudah tak bernyawa lagi. Iseng aku pegang tangannya yang masih terbalut kain kafan. Dan jantungku hampir berhenti berdetak. Tangannya dingin sekali. Aku mulai berfikir yang tidak-tidak. Apakah dengan cara ini Ami meninggal? Namun segera kutepis pikiran itu. Ah... mudah-mudahan ini hanya perasaanku saja.Kulihat sekeliling, semua masih asyik menyimak penjelasan Ustadzah. Mereka berusaha memahami materi yang disampaikan yang sekaligus diiringi dengan prakteknya.
Akhirnya acara pun usai. Aku bernafas lega. Ami menghampiriku. ”Apa yang ukhti rasakan saata menjadi mayat tadi?” Tak sabar kutanyakan hal itu kepadanya. Dia memandangku tanpa ekspresi. Bibirnya bergetar ingin mengatakan banyak hal. Tetapi yang keluar hanya ucapan ”Ana takut ukhti...” Dan tangisnya pun pecah di pelukanku.
Tiga hari berikutnya, aku bersilaturahim ke tempat kosnya. Kutunjukkan fofo-foto hasil jepretanku saat acara dauroh janaiz. Ami mengambil lima buah foto. Itu adalah foto-foto dirinya saaat ia menjadi ”jenazah”. Secara refleks ia mengambil lem. Kemudian ditempelkannya foto-foto itu di dinding kamarnya. Aku memandangnya takjub juga heran. ”Agar ana selalu ingat akan mati ukhti...” Ucapnya seolah tahu apa yang ada di benakku.
Malamnya sepulang dari tempat Ami, aku tidak bisa tidur. Teringat lagi mimpi burukku tentang kematian Ami, ingat dauroh janaiz, ingat Ami yang jadi ”jenazah”, ingat foto-foto Ami yang ditempel di dinding, ingat kata-katanya, ingat tangisannya, ingat semuanya.
Akhirnya kuhabiskan malam itu dengan shalat malam, tilawah, dan do’a Robithoh. Ribuan do’a kupersembahkan untuk Ami, saudara seperjuanganku. ”Ya Allah... Lindungilah ia, selamatkanlah saudaraku. Berikan kehidupan yang terbaik untuknya. Berikanlah ia tempat terbaik di sisi-Mu nanti.”
Dua hari setelah peristiwa mimpi buruk itu, aku mendengar kabar bahwa Ami kecelakaan sepeda motor sepulang dari rumah sakit bersama teman sekantornya. Ami kehabisan darah sehingga langsung meninggal di tempat kecelakaan tersebut.
Inna lillahi wa inna ilayhi roji’un. Aku hampir tak percaya saat Ami berlumuran darah. Ya Allah... ternyata dengan cara ini, Engkau mengambil nyawa saudaraku. Apa yang kurasakan dan kupikirkan tentang kematian Ami selama ini menjadi kenyataan. Kematian yang baik atau burukkah ia? Syahidkah ia?
Ya Allah... Apapun jenis kematian yang menimpa saudaraku ini, berikanllah tempat yang terbaik untuknya. Kematian adalah rahasia Allah, dimana pun dan kapan pun kematian akan selalu mengintai kita. Entah itu di tempat tidur atau pun di tiang gantungan. Kita hanya berharap dimatikan Allah dalam keadaan khusnul khotimah. Motto kita adalah ”Hidup mulia atau mati syahid” Kematian seperti apakah yang kita inginkan? [elha]
Seperti dituturkan oleh Mba Dari, Bogor Indonesia.

No comments:
Post a Comment