Saturday, June 12, 2010

Menata Niat Meraih Nilai


Suatu ketika Rasulullah saw bersabda: “Apabila dua orang Muslim bertemu dengan kedua pedang mereka (berperang), maka yang membunuh dan yang terbunuh masuk ke dalam neraka.” Mendengar hal itu para sahabat merasa heran dan bertanya,” Wahai Rasulullah, kalau yang membunuh bisa dipahami, tetapi  bagaimana halnya dengan yang terbunuh?” kemudian beliau menjawab:”Karena ia pun ingin membunuh sahabatnya.”

Mungkin sebagian besar kita pernah mendengar hadits di atas. Kita pun memahami betapa pentingnya niat itu bagi amalan-amalan yang kita lakukan. Bahkan para sahabat pun merasa heran mengapa orang yang terbunuh itu juga kelak akan masuk neraka. Dan kita pun akhirnya sadar betapa niat yang ada dalam hati kita itu tidak boleh diremehkan. Bahkan dalam hadits yang lain Rasulullah mengatakan bahwa sesungguhnya amalan kita itu tergantung kepada niat kita.

Apa niat itu?
Imam Al-Ghozali mengatakan bahwa niat merupakan ungkapan keinginan yang menengahi antara ilmu yang sudah ada dan amal yang akan datang. Ia mengetahui sesuatu, maka muncullah keinginannya untuk memperbuat sesuai dengan ilmu.

Oleh karena itulah amat penting bagi kita untuk memperdalam ilmu. Karena dengan ilmu yang ada dalam diri kita itulah, akan muncul niatan yang bagus. Dengan niatan yang bagus itu, maka amal kita pun akan menjadi berkualitas. Rasulullah bersabda,”Niat orang Mukmin lebih baik daripada perbuatannya. Sementara niat orang fasik lebih jelek daripada perbuatannya.”

Lebih lanjut Imam Al-Ghozali mengatakan Perbuatan itu terbagi menjadi tiga golongan yakni perbuatan dalam kemaksiatan, ketaatan dan mubah. Perbuatan dalam kemaksiatan tentu tidak dapat menjadi ibadah karena didahului dengan niat. Adapun di dalam ketaatan haruslah ada niat. Maka asalnya tidak menjadi ketaatan kecuali dengan niat. Kemudian dengan kelanggengan niat dan niat yang baik, maka berlipatgandalah derajat ketaatan.


Betapa banyak perbuatan yang sebenarnya cuma satu perbuatan saja namun ia bernilai beberapa ibadah hanya dikarenakan niat. Misalnya ada orang duduk di masjid, sedangkan ia berniat untuk mengunjungi Allah sebagaimana sabda nabi,”Bahwa orang yang duduk di masjid, maka ia telah mengunjungi Allah. Hak yang dikunjungi adalah memuliakan pengunjung.” Selain itu, orang itu juga berniat menunggu waktu shalat. Ia juga berniat untuk beriktikaf di masjid. Ia juga berniat untuk menghindarkan anggota tubuh dari berbuat maksiat dan membentengi diri di dalam masjid. Ia berniat mendengarkan dengan seksama zikir kepada Allah dan membaca Al-qur’an. Semua itu merupakan kebaikan yang berturut-turut dan diperoleh dengan niat.

Sedangkan perbuatan mubah akan menjadi ibadah jika dilandasi dengan niat yang baik. Untuk itulah kita harus sangat memperhatikan hal ini. Agar semua yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia. Agar semua gerak dan diam kita bisa bernilai ibadah di sisi Allah dengan dilandasi niat yang baik. Hal ini adalah karunia dari Allah yang begitu besar sehingga kita tidak melewatkan sekejap pun umur kita dengan hal yang sia-sia. Bukankah umur kita amatlah pendek? Maka setiap detik umur kita haruslah menjai amal shaleh bagi kita. Inilah pembeda kita dengan binatang yang mendatangi sesuatu yang disenanginya tanpa maksud dan niat. [elha]


No comments:

Post a Comment