Nampaknya kita harus benar-benar serius menata hati kita agar selalu ikhlas dalam melakukan segala aktifitas kita. Salah-salah amalan ibadah yang dilakukan bisa menjadi tak bernilai jika tidak didasari oleh sebuah niat yang murni, ikhlas hanya untuk Allah. Sungguh merugi bukan?
Maka, jikalau masih ada bibit-bibit ketidak ikhlasan dalam diri kita segeralah dibuang jauh-jauh. Berhati-hatilah jika kita melaksanakan ibadah ini masih temporal. Masih angin-anginan. Ibadah yang angin-anginan biasanya ukurannya adalah duniawi. Ia hanya dilakukan jika keadaan amat mepet dan butuh sama pertolongan Allah. Ketika musibah menghampiri atau ujian menerpa maka meningkatlah amalan ibadahnya. Namun ketika pertolongan Allah itu sudah datang, kemudahan menghampiri, gelombang ujian kesempitan sudah tiba malah kedekatannya dengan Allah pun semakin pudar.
Bagi orang yang ibadahnya masih angin-anginan, ketika ia diminta menjadi imam maka bacaannya ia pilihkan surah yang panjang. Ia membacanya dengan tartil. Bahkan mungkin ia buat suaranya sedikit menangis ketika membaca ayat-ayat yang berisi ancaman agar jamaah terenyuh. Namun ketika ia harus sholat sendirian di rumah yang tidak dilihat oleh orang lain, ia pun melakukan gerakan sholat dengan begitu cepatnya. Ia pilih surat pendek, bahkan ia pun tak melaksanakan tuma’ninah dengan baik.
Ketika berwudhu dan disampingnya ada calon mertua atau orang terpandang, ia pun melakukan gerakan wudhu dengan sebaik-baiknya. Dibagus-baguskannya gerakan wudhunya. Namun lagi-lagi ketika tidak ada orang yang melihatnya, wudhu pun dilakukan dengan lebih cepat dan seadanya.
Atau ketika menjelang pernikahan, ibadah menjadi begitu rajinnya. Shalat tahajjud tiap malam dengan derai air mata. Shalat-shalat wajib ia lalui dengan berjamaah di masjid. Tidak lupa sholat sunnah rawatib pun ia tunaikan. Puasa sunnah rutin ia kerjakan, bahkan kemana-mana ia membawa Al-qur’an kecil yang selalu ia baca ketika ada waktu senggang. Namun ketika pernikahan sudah terjadi jangankan sholat tahajjud, sholat subuh pun sering telat. Puasa sunnah sudah tak pernah lagi dilakukan. Bukankah ini adalah sebuat perilaku yang memalukan? Sudah diberi kenikmatan oleh Allah, malah ibadah-ibadahnya ia kendurkan. Bukankah seharusnya ia lebih tingkatkan ibadahnya sebagai bentuk syukurnya?
Nah, kalau masih ada sebagian dari kita yang memiliki perilaku demikian sudah sepantasnya kita harus menata ulang hati kita. Itu adalah beberapa tanda kurang sempurnanya keikhlasan niat kita. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap istioqomah di jalan kebaikan dengan hati yang ikhlas. [elha]

No comments:
Post a Comment