Bulan-bulan gini adalah sibuk-sibuknya mereka yang seusia saya bingung ujian. Mereka sibuk belajar untuk menghadapi ujian esok harinya. Mereka pun sibuk pilah dan pilih sekolah yang mereka inginkan. Sementara saya? Saya masih sibuk mengurusi hati saya yang masih kepingin sekali melanjutkan sekolah. Apakah memang sudah nasib saya untuk tidak bisa sekolah? Bahkan sudah dua tahun ini saya menunggu kesempatan itu.
Saya teringat 2 tahun yang lalu begitu bahagianya saya ketika dinyatakan lulus dari SMPN 1 Ploso. Tetapi itu semua berubah menjadi kesedihan ketika saya harus menghadapi tembok terjal untuk bisa melanjutkan sekolah. Alasan yang selalu sama. Ketidak adaan biaya!
Memang ujian ini harus terus saya dan keluarga hadapi. Bapak saya sudah meninggal sekitar 5 tahun yang lalu. Beliau meninggal karena sakit liver. Sejak itulah ibu harus menghidupi saya dan kedua adik saya. Beliau jugalah yang harus membayar rumah sederhana kontrakan tempat kami tinggal. Ibu adalah wanita yang amat tegar. Beliau bekerja apa saja demi menghidupi kami. Beliau tiap harinya menjadi buruh cuci atau kadang-kadang membantu orang yang sedang punya hajatan.
Meskipun muallaf, ibu saya boleh dibilang terus menjaga agama ini dengan baik. Beliau selalu mendidik kami dengan baik. Meskipun kami sebagai anak-anaknya terkadang belum bisa sepenuhnya melakukan nasehat-nasehat beliau.
Saya tahu dengan keadaan keluarga kami. Apalagi adik saya mau lulus SMP dan yang kecil sudah kelas 5 SD. Tentu mereka juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Semoga keinginan saya untuk bisa melanjutkan sekolah SMA ini bisa terwujud. Amin. [elha]

No comments:
Post a Comment