Tuesday, June 15, 2010

Kesadaran zakat ummat ini masih rendah


Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Namun, masih banyak permasalahan yang membelit bangsa ini hingga kita masih belum bisa bangkit menjadi sebuah bangsa yang besar. Salah satu masalah itu adalah masih rendahnya tingkat kesadaran ummat ini terhadap ibadah zakat. Alhamdulillah kami berkesempatan untuk bersilaturahim dengan KH. Salahuddin Wahid, pengasuh PP Tebuireng. Terjadi perbincangan yang hangat diantara kami. Berikut petikan wawancaranya.

Menurut Pak Kyai, bagaimana dengan potensi zakat di Indonesia ini?
Banyak angka yang disampaikan oleh berbagai pihak. Yang terendah sekitar Rp 7 triliun, dan yang tertinggi sekitar Rp 32 triliun. Kalau kita ambil tengah-tengah saja sekitar Rp 18/15 triliun. Saya pikir yang sudah terkumpul paling banyak Rp 1-2 triliun. Artinya masih sekitar 10%. Ini masih kecil sekali.
Menurut data BAZNAs di tahun 2005, sekitar Rp 800 milyar zakat tersalurkan melalui mereka. Saya yakin yang tidak melalui mereka juga sebesar itu. Jadi kalau ditotal sekitar Rp 1,6 triliun. Ya sampai di situ saja kesadaran kita. Padahal saat itu ada sebuah lembaga sosial dari New York yang membantu korban tsunami sebesar 30 juta dollar (sekitar Rp 300 Milyar). Itu mereka orang kristen mau membantu orang muslim. Lah kita orang muslim masih enggan membantu sesama muslim. Semua bilang Islam baik. Ya memang ajaran islamnya baik, tapi kelakukan ummatnya belum tentu baik. Kalau dibandingkan pemeluk agama lain kalah jauh kita. Itu Oprah Winfrey, presenter dari Amerika Serikat  berinfaq puluhan juta dollar. Bill  gates, dan lainnya.

Jadi apa yang salah dengan keadaan seperti ini pak Kyai?
Ya jelas kesadaran ummat ini yang masih rendah. Kalau kita percaya bahwa shodaqoh itu ajaran Allah. Itu orang kafir lebih percaya daripada kita. Ajaran Allah itu banyak melalui Alqur’an, alam dan manusia. Kita percaya Quran, tapi itu pun hanya kta baca dan hafal saja tanpa kita kerjakan. Islam memang baik, orang islam gak atau belum lah. Ya, tapi saya sendiri tidak tahu bagaimana membangkitkan kesadaran ini. itu tidaklah mudah. Penyadaran ini harus dimulai sejak kecil, tetapi kalau orangtuanya tidak ngajarin bagaimana anaknya sadar.
Selain lemahnya kesadaran ummat ini terhadap pentingnya zakat, apa lagi yang membuat potensi zakat kita masih belum tergarak optimal?
Berikutnya karena pengorganisasian yang belum baik. Kita tahu banyak orang punya harta dan ingin membantu tapi dia tidak tahu siapa-siapa yang sangat membutuhkan. Maka organisasi pengelola zakat harusnya mengetahui mana yang bisa membantu, mana yang harus dibantu kemudian mereka menyalurkannya dan juga memeratakannya. Saat ini kan masih belum merata, seperti Yusuf Mansur yang bisa dapat milyaran rupiah sementara yang lain hanya mendapat ratusan ribu. Untuk itulah sangat penting pengorganisasian. Keadaan seperti ini sudah lama berlangsung, walaupun saat ini sudah ada kemajuan tetapi masih sedikit dibandingkan dengan yang seharusnya.
Namun, kita melihat semangat beragama juga tumbuh, hal ini bisa ditunjukkan dengan calon jamaah ibadah haji yang terus membludak.
Kesholehan itu ada empat. Sholeh pribadi, sholeh sosial, sholeh sosial profesioanal dan kesadaran alam. Nah, selama ini kita kan masih belum paham. Belajar ilmu agama tok, sempit lagi. Padahal untuk hidup di dunia itu  ya ilmunya ilmu dunia. Kita gak akan sampai ke syurga kalau dunia gak beres. Jadi kalau ada yang mengatakan ilmu dunia itu fardhu kifayah gak betul, menurut saya ilmu dunia itu ya fardhu ‘ain juga

kejujuran juga menjadi suatu hal yang  sangat langkah saat ini.  Ukuran moral, kumpul kebo itu tidak bermoral, ini betul tapi orang yang tidak punya kepedulian sosial juga seharusnya dihukumi tidak bermoral. Di Luar negeri ukuran moral itu kalau tidak merugikan orang lain, jadi disana kumpul kebo gak papa. Harusnya ya dua-duanya. Saya gak bisa paham orang yang berkali-kali haji tetap melakukan hal yang gak boleh
Jadi bagaimana kita seharusnya memaknai ibadah kita?
ibadah itu ada dua dimensi, simbol atau cara dan substansi atau tujuan. Sholat itu tujuannya agar kita tidak berbuat kemungkaran. Tapi yang terjadi sholat jalan kemungkaran jalan. Ini berarti kita ambil simbolnya saja sementara substansi gak kita ambil. Puasa menahan lapar saja, tujuanya kan agar kita bertaqwa nah apakah kita sudah bertaqwa. Kan juga gak. Paling taqwa sebulan setelah puasa. Setelah itu lupa lagi.
Ini pasti ada yang salah dalam kita berpuasa, tapi saya sendiri gak tahu. Akhir puasa kita bilang menang, Wah kalau menang hanya dengan tidak makan, minum dan berhubungan sex saja, kok mudah sekali. Menurut saya kemenangan kita ya di akhir bulan sya’ban , apa benar di luar ramadhan perilaku kita sehari-hari betul-betul mendapatkan dampak dari puasa ramadhan. Rasanya terlalu berani kalau kita bilang kita menang
Tetapi bukankah Allah telah berjanji akan menolong kita pak Kyai?
Saat ini memang Ummat Islam  kalah. Artinya Allah tidak menolong. Padahal Allah Maha kuat, Maha Perkasa. Kenapa Allah tidak menolong kita, karena kita tidak melaksanakan agama Allah. Ada yang mengatakan  dengan menerapkan syariat Islam di Indonesia. Menurut saya hal itu tidak akan terjadi. Laksanakanlah syariat itu di pribadi-pribadi kita, ya minimal di keluarga kita masing-masing. Kita berusaha sebisa kita. Dari kecil, harus ditanamkan untuk saling berbagi. Dan itu tidak hanya diomongin saja tapi dicontohin.

Kita baru bisa menggali 10% dari potensi zakat. Nanti kalau semakin meningkat, haruslah terjadi pemerataan. Kalu kita mengkritik pemerintah karena belum ada pemerataan, kita juga mengkritik diri senidri kalau memberikan zakat tidak merata. Kalau kita bandingkan dengan orang kristen, mereka sepersepuluh dari pendapatan mereka. Sedangkan kita hanya 2,5 persen saja. Tapi mereka bisa. Mereka sudah memenuhi kewajibannya. Begitu kok kita merasa lebih hebat dari mereka. Kita mungkin hebat dari sisi ke atas, konteks ke samping belum tentu.

Melihat paparan pak Kyai, nampaknya perjuangan demi bangkitnya ummat ini tidaklah mudah.
Ya memang. Terkadang memang muncul rasa pesimis. Tapi kita tidak boleh begitu. Kita harus tetap optimis.  Dan saya menghargai anda-anda ini mau bergulat di perjuangan panjang ini. [elha]

No comments:

Post a Comment