Friday, August 20, 2010

Tangisan itu

Tangisan itu
Oleh: Lutfi Hakim, Ketua Iqro’ Club Jombang

Setiap kali saya mengisi acara taklim umum dan mengadakan muhasabah di akhir acara, banyak para remaja itu yang meneteskan air mata. Air mata mereka mengalir deras ketika disebut dosa-dosa yang telah begitu banyak mereka lakukan terhadap orang tua mereka. Tak terasa air mata saya pun mengalir hangat di pipi. Satu karena saya pun merasa masih begitu banyak dosa-dosa yang telah saya perbuat kepada kedua orang tua dan masih jauh diri ini dari yang namanya membahagiakan kedua orang tua. Kedua air mata ini meleleh melihat lautan air mata di depan saya yang menitik karena rasa sayang mereka kepada orang tuanya.

Namun, tidak semua para pelajar itu menitikkan air mata penyesalannya. Di beberapa titik sudut ruangan itu masih ada saja beberapa pelajar yang tersenyum, terkekeh-kekeh melihat teman-temannya menangis. Mereka tidak habis pikir mengapa teman-temannya begitu cengeng. Buat apa juga menangis, malu-maluin sendiri aja. Tak jarang mereka malah menggoda dan mengganggu teman-temannya yang sedang khusyuk bermuhasabah.

Menangis memang bukan satu-satunya tanda bahwa mereka adalah anak yang berbakti kepada kedua orang tua mereka. Namun, setidaknya dengan menangis mereka menampakkan kesungguhannya menyesali semua perbuatannya yang kurang berkenan di hati kedua orang tua mereka. Urusan hati adalah urusan lain, yang kita tidak tahu isinya sama sekali. Urusan kita adalah di luar yang nampak. Masalah tangisan itu tangisan kesungguhan diiringi dengan keikhlasan untuk memohon ampun atas semua dosa-dosanya dan dosa kedua orang tuanya.

Aduhai, sungguh orang tua mana yang tidak berbunga-bunga hatinya melihat anaknya berdo’a dengan khusyuk kepada Allah. Dengan derai air mata ia memohon ampun atas dosa-dosa dirinya dan dosa kedua orang tuanya. Tak lupa ia pun memohon kepada Allah agar Dia menyayangi kedua orang tuanya seperti kedua orang tua itu menyayanginya ketika kecil. “Rabbigh firlii wa liwa lidayya war hamhuma kama rabbayanii shoghiroo”.

Aduhai orang tua mana yang tidak sedih ketika melihat anaknya enggan berdo’a demi ampunan Allah. Enggan bukan hanya minta ampun atas dosa-dosanya sendiri tapi juga dosa-dosa kedua orang tuanya. Bukan derai air mata yang tergambar di wajahnya, malah seringai senyum seolah tak punya dosa dan menganggap kematian amat jauh dari dirinya.

Padahal salah satu amalan yang tidak akan terputus meskipun kita meninggal dunia adalah do’a dari anak yang saleh. Dan patutlah kita bersedih hati bilia di saat kita hidup, anak-anak enggan mendo’akan kita apalagi nanti kalau kita sudah terbaring di kubur? Dan sungguh hal ini adalah didikan kita kepada anak-anak kita semenjak mereka kecil. Yakinlah, semua ini belum terlambat. Segeralah didik anak kita dengan ilmu agama. Karena semakin dalam ilmu agamanya insyaallah do’a-do’a itu akan otomatis teruntai dari mulutnya di setiap habis shalat. Doronglah mereka agar memiliki teman-teman atau komunitas yang menjunjung tinggi ilmu agama. Dan tentu saja do’a dari kita, para orang tua yang seharusnya tidak pernah putus agar mereka menjadi anak yang sholeh, anak yang berbakti kepada kedua orang tua dan anak yang kelak menjadi generasi penerus perjuangan agama ini. Semoga. [ ]




No comments:

Post a Comment