Friday, August 20, 2010

Anak dan ibu kambing

Anak dan ibu kambing
Oleh: Yanuardi Syukur, Mahasiswa Pascasarjana Unversitas Indonesia

Lidah itu tidak bertulang, tapi kalau dikeluarkan tanpa pertimbangan, akan berakibat tidak baik. Seorang ibu yang mengatakan pada anaknya, "Kamu ini kayak kambing aja, males mandi!" Sang anak yang mendengar itu, bisa saja berkata dalam hatinya, "Kambing..Waduh, kalau saya kambing, berarti ibu saya kambing juga ya.."

Itu hanya menjadi jokes saja, namun yang serupa dengannya bisa saja terjadi. Orang tua yang tidak selektif dalam memilih kata-kata, bisa-bisa menjatuhkan dirinya sendiri. Ungkapan "Lidahmu harimaumu!" tepat sekali untuk konteks ini. Kalau kita tidak bisa mengendalikan "harimau" itu, maka dia akan pelan-pelan menerkam kita. Apa perasaan kita bila melihat anak kita mengeluarkan kata-kata kotor kepada temannya. Kita mendengarnya dan kemudian melarangnya untuk mengucapkan lagi kata-kata itu. Eh, dia malah berkata, “kok saya dilarang berkata begini, bukankah bapak/ibu juga berkata seperti itu kepada saya?” Sungguh suatu kalimat yang menampar bukan?

Suatu waktu, saya online di sebuah warung internet tak seberapa jauh dari kampus UI. Seorang ibu marah-marah kepada anak kecil. Kata-kata kotor pun terlontarlah sudah. Dipukulnya itu anak. Pasti menangis seketika. Namun, anak yang dipukul itu, balik juga "memukul" sang ibu dengan kata-kata yang sama kotornya dari organ manusia hingga nama-nama hewan yang sebenarnya hewan itu tidak ada salahnya.

Melihat itu, saya berpikir: Kenapa harus kata-kata kotor dan pukulan yang menjadi solusi? Anak-anak yang masih bersih pemikirannya itu, cepat sekali menangkap apa yang diucapkan oleh orang lain. Suatu waktu, saya bilang ke anak saya yang hampir tiga tahun sambil pakai topi gajah, "Icha lihat, abi jadi professor gajah." Tak seberapa lama, anak saya mengomentari dengan sebelumnya tertawa, "Abi jadi professor gajah."

Begitu cepat anak-anak menangkap! Kenapa ada anak yang bisa menjaga lidah dan ada yang sembarangan bicaranya? Tampaknya, itu karena dididik oleh lingkungan. Dan, lingkungan itu dimulai dari keluarga, orang tua. Anak yang berada di lingkungan yang seringkali mengobral kata-kata kotor, sumpah serapah dan sebagainya niscaya si anak pun akan melakukan hal itu pula kepada teman-temannya. Maka jangan menyalahkan anak 100 persen ketika ia berbicara kotor, sumpah serapah, mencaci maki dan aneka peyakit lisan lainnya. Ingat mereka, anak-anak kita ibarat sebuah spons. Ia menyerap apa pun yang dilakukan oleh lingkungannya. Kalau lingkungannya baik, maka baiklah ia. Dan kalau jelek lingkungannya, maka jeleklah ia.

Ketika dia berbuat kesalahan dan saat itu juga kita memukulnya, maka ia akan belajar untuk memukul orang lain jika tak sesuai dengan keinginannya. Ketika dia berbuat kesalahan dan saat itu juga kata-kata kotor keluar dari mulut kita, maka ia akan belajar menyumpah-serapah orang lain ketika apa yang dilakukannya tidak disetujui oleh orang tersebut. Pendek kata, ia adalah pembelajar terbaik dari pengalaman-pengalaman hari-harinya yang dihabiskannya dalam lingkungan. Dan sadarkah kita bahwa kita, orang tua adalah lingkungan terdekat dia. Jadi sekali lagi kita harus pandai-pandai mengatur dan menjaga lisan kita agar jangan sampai keluar kata-kata yang tak pantas dari mulut ini. Juga jaga diri sebaik-baiknya untuk tidak mengeluarkan akhlak buruk kita.  Ingatlah selalu segala apa yang kita ucapkan dan kita perbuat akan terekam di otak anak kita dan kemungkinan besar dia akan menirunya.

Maka jangan heran kalau tiba-tiba muncul kata-kata kotor dari mulut anak kita. Lha wong kita sendiri yang mengajarinya. Maka jangan heran jika ia pandai membohongi kita, lha wong dia terbiasa kita ajari bohong misalnya ketika ada tamu kita minta dia untuk bilang bahwa kita tidak ada di rumah. Dan juga jangan heran bila ia sukanya membentak-bentak kalau selama ini kita membentaknya dengan keras ketika ia berbuat salah. Ingatkah kita akan suatu ungkapan “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya

Kalaupun toh, sang anak melakukan kesalahan, alangkah baiknya jika pertama kali kita hadapi dengan nasehat. Misal, sang kakak memukul adiknya yang masih kecil. Pukulan itu bisa saja berbahaya. Kita bisa menghadapinya dengan memujinya dengan berkata, "Kakak, Kakak anak sholehah kan?" Nah, kalau anak sholehah, jangan pukul adek ya. Kata-kata yang bijak, motivatif lebih kena dan diterima oleh anak-anak ketimbang kata-kata yang kasar dan tidak mendidik.

Bukankah kita sendiri juga lebih menyukai kata-kata yang positif. Kata-kata yang bijak. Kata-kata yang motivatif. Apalagi mereka yang masih kecil. Maunya dipuji bukan mala disalahkan atas apa yang mungkin belum mereka pahami benar. Oleh karena itu, kesabaran kita sebagai orang tua juga sangat berperan dalam hal ini. Mulai saat ini marilah kita praktekkan ilmu ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Pantang untuk mengucapkan hal-hal kotor kepada anak-anak kita. Pantang juga untuk berkata dengan membentak-bentak kepada anak. Pantang juga untuk berkata bohong kepada anak. Pantang juga untuk berperilaku buruk di depan anak. Insyaallah dengan begini anak-anak kita akan menemukan suri tauladan di rumahnya sendiri. Dan kelak anda akan terkejut dengan perubahan yang terjadi pada anak anda. [elha]

No comments:

Post a Comment