Friday, August 20, 2010

Bahagia Hati dari Mereka

Bahagia Hati dari Mereka
Oleh: Lutfi Hakim, Ketua Iqro' club Jombang

Kembali saya tersenyum. Tersenyum di bibir saya, juga tersenyum di hati saya. Bahagia datang membelai hati saya. Mengusap pikiran saya. Meringankan rasa berat yang selama ini saya pikul. Mengobati luka-luka yang saya dapat ketika menjalani aktifitas. Bahagia kemudian membawa saya terbang dan lagi-lagi saya tersenyum.

Bahagia itu masih belum mau pergi. Ia masih kerasan di sini rupanya. Ia kemudian berputar-putar. Ia berkeliling pula menghampiri orang-orang terdekat saya. Istri dibelai olehnya. Anak-anak juga dihampirinya. Tetangga, rekan kerja teman seperjuangan semuanya disapa oleh bahagia. Semua tersenyum.

Terjadilah dialog antara saya dengan hati ini:
“Mengapa engkau masih saja diselimuti bahagia?” tanya saya menyelidik.
“Ya, saat ini aku benar-benar merasa bahagia!” jawab si hati.
“Bukankah selama ini aku pun selalu berusaha untuk menyenangkanmu. Aku membeli barang-barang yang bisa membuatmu tentram. Aku bahkan kadang harus berhutang demi menyenangkanmu.” Masih penasaran saya menanyai si hati.
“Memang benar. Selama ini engkau sudah berusaha menyenangkanku. Tetapi kebahagiaan ini memang beda. Beda dari biasanya. Kebahagiaan ini terasa lebih indah. Lebih sejati. Lebih awet. Dan lebih-lebih yang lainnya.” Si hati menjawab dengan untaian senyumnya.

Termenung saya berpikir. Apakah gerangan yang terus membuat hati ini bahagia.
“Apakah ini karena aku baru saja membeli baju baru?” tanyaku.
“Oh, bukan.” Jawab si hati cepat.
“Karena aku dapat penghasilan yang lebih tinggi bulan ini?”
“Juga bukan.”
“Karena anak-anakku tumbuh dengan normal?”
“Kamu masih salah.”
“Kalau begitu, apa yang membuatmu bahagia?” menyerah saya.

Si hati tersenyum simpul dan berkata “Lihatlah para pemuda-pemudi itu. Mereka begitu khusyu’ i’tikaf di masjid. Mereka sungguh bersemangat mendengarkan materi-materi yang disajikan. Bahkan berderai air mata mereka ketika bermuhasabah, menghitung diri atas segala dosa dan sedikitnya amal yang mereka telah perbuat. Tidakkah aku pantas merasa bahagia yang luar biasa melihat generasi muda Islam di saat ini masih ada yang seperti itu?”

Air mata saya pun tumpah. Tanda haru oleh perkataan si hati. Aku bersimpuh. Merasa syukur yang tak terkira. Saya merasa bangga. LPUQ dengan segenap para donatur telah menjadikan i’tikaf pelajar ini memungkinkan terjadi. Saya merasa makin bangga ternyata masih banyak para pecinta agama ini yang terus berjuang demi tegaknya ajaran Islam. I’tikaf pelajar di Ramadhan 1430 H ini memang terasa sungguh istimewa. Terasa hingga ke relung-relung hati. Selamat datang wahai para pemuda-pemudi pemikul risalah ilahi. Bersama kita akan junjung dan tegakkan panji Islam di negeri ini. [ ]  

No comments:

Post a Comment