Friday, June 11, 2010

Reality Show Kita Bagaimana?

oleh: Mashuri Hariyanto

Jika hidup kita ditampilkan dalam reality show yang marak di beberapa saluran TV nasional, diakui oleh kreatornya masih perlu diskenariokan sebagian agar menjadi alur cerita yang menarik ditonton. Tentu ada ’kekakuan akting’ disana-sini sehingga tampak kurang ’hidup’ dari tampilan yang terlihat. Ada ekspresi dipaksakan dari wajah iba, kepedulian, tangisan, bahkan sujud syukur yang dilakukan. Ya iyaa lah, pemeran utamanya kan bukan pemain sinetron atau bintang film.

Nah, yang menarik adalah obyek reality show yang kita saksikan ternyata banyak menggunakan keluarga miskin. Kadangkala si bapak atau ibu, tapi juga anak-anak atau kakek-neneknya. Di akhir cerita sering ’happy ending’ dengan tangis mengharu-biru, bahagia dan mendapat hadiah yang sangat bernilai bagi mereka. Tentu inilah ’warna entertainment’ yang diharapkan mengundang simpatik penonton dan terutama sponsor acara reality show.

Maksud yang baik untuk menolong keluarga miskin patut kita apresiasi. Tentu dengan harapan mempengaruhi kepedulian dan kesadaran penonton untuk melakukan kebaikan seperti itu. Namun tetap saja unsur keterpaksaan yang kadang masih terlihat dieksploitasi dalam cerita reality show, masih bisa didiskusikan agar lebih memberi ’kehormatan’ kepada keluarga miskin yang menerima bantuan. Selebihnya, unsur hiburan yang menarik ’hati’ dinilai berhasil meraih pilihan penonton, dibandingkan dengan relity show yang kurang mendidik dan menunjukkan emosi negatif.


              Pesan tulisan ini sesungguhnya menyadarkan kita bahwa reality show kita akan diputar nanti dihadapan kita! Lho, bagaimana? Ya, tentu setelah kita mati. Setelah hari akhir akan ditampakkan semua kejadian yang kita alami tanpa terlewati satu ’episode’ pun! Jadi, bagaimana? Tentu. Hiduplah yang mengalir dalam arus positip yang digariskan lurus menuju surga-Nya. Mari kita buat happy ending yang sesungguhnya kita impikan itu. Miskin atau kaya, rakyat biasa atau pemimpin manusia semua sama tujuan yang harus kita jaga ’kehormatan kita’ untuk meraihnya. Yang miskin tidak menghina dina dirinya apalagi Sang Pencipta. Yang kaya tidak sombong dan pongah menginjak yang lemah apalagi melupakan syukur atas rezeki dari-Nya. Wallahu a’lam bishowab. 






No comments:

Post a Comment