Oleh: Lutfi Hakim
Ketua Iqro’ Club Jombang
Suara tangis bayi menyeruak diantara erangan sang ibu. Sang ibu yang basah kuyup bermandikan keringat tiba-tiba merasakan suasana batin yang tiada terkira. Perasaan bahagia membuncah dan menggerakkan otot-otot wajahnya untuk segera menarik bibirnya tersenyum indah. Rasa sakit yang luar biasa pun tiba-tiba lenyap entah kemana. Susah itu kini berganti senang. Berat itu kini berganti ringan. Rindu akan janin yang selama ini dikandungnya pun sudah terobati demi melihat wajah merah tanpa dosa menangis di dekapnya.
Setelah bayi itu menatap dunia ini menangislah ia kencang-kencang. Ia khawatir menatap dunia yang begitu luas dan konon “kejam” ini. Ia bimbang apakah ia mampu menghadapi semua itu sendirian. Ia ragu apakah mungkin dirinya yang begitu lemah mampu menjalani hidup yang semakin semrawut ini.
Namun, sang bayi merasakan ada sentuhan lembut mengusap tubuhnya. Ia mendengar kata-kata cinta dari orang-orang di sekelilingnya. Belum juga ia mampu melihat, namun ia yakin bahwa ia akan baik-baik saja menjalani hidup di dunia ini. Ia amat yakin betapa indahnya dunia dengan hadirnya orang-orang yang penuh cinta. Dengan penuh cinta sang ibu memberikan ASI dengan ikhlas. Dengan penuh kasih sayang sang ibu memandikan, memakaikan baju, menyuapi, membersihkan air kencing dan sebagainya. Terus, terus dan tanpa kenal lelah sang ibu dan bapak berusaha memberikan yang terbaik demi masa depan anaknya yang tercinta.
Nah, kini si bayi itu sudah tumbuh menjadi seorang remaja. Seorang remaja yang memang masih serba “nanggung”. Dibilang masih kecil bukan. Dibilang sudah dewasa juga masih belum. Pendek kata masa inilah yang masih sangat rawan bagi kehidupan seorang anak manusia.
Di masa seperti inilah seringkali orang tua merasa bahwa anaknya tiba-tiba menjadi anak pembangkang. Tiba-tiba anaknya tidak mau lagi mendengarkan apa kata mereka. Tiba-tiba anaknya menjadi seorang pemberontak. Tiba-tiba kuasa orang tua semakin memudar. Dengan kata lain si remaja sudah tumbuh menjadi anak yang sangat nakal.
Akibat dari perasaan inilah, komunikasi menjadi menegangkan. Bahasa-bahasa yang digunakan oleh orang tua cenderung memerintah bukannya diskusi. Di sisi lain si remaja ingin mengajak diskusi orang tuanya. Tetapi terkadang sang orang tua menganggap ini adalah bentuk pembangkangan. Jadilah suasana keluarga menjadi begitu menegangkan.
Dimanakah rasa cinta yang selama ini tertanam kuat di dalam hati orang tua? Dimanakah komunikasi penuh cinta yang selama ini memenuhi ruang keluarga. Untuk itulah terkadang para orang tua harus merenung kembali. Tulisan ini bukanlah untuk menggurui tetapi sebagai bahan renungan kita bersama. Lalu mengapa orang tualah yang paling pertama seharusnya merenung. Karena menurut hemat saya orang tualah yang jauh lebih dewasa dibandingkan anaknya. Sekarang marilah kita merenung. “Apakah anak kita yang semakin hari semakin nakal, atau justru orang tualah yang semakin hari semakin menjadi tidak sabar?” [ ]

No comments:
Post a Comment