Semoga Allah memberikan kepada kita hati-hati yang tulus ikhlas dalam melakukan segala amalan ibadah kita. Terlebih lagi sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan, yang di dalamnya biasanya kita berlomba-lomba untuk beramal shaleh. Bukankah sudah kita ketahui bersama akanlah sia-sia suatu amalan yang tidak didasari atas keikhlasan. Suatu amal ibadah hanya akan diterima oleh Allah ketika dilakukan dengan benar dan ikhlas. Benar maksudnya tata caranya seperti yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah. Ikhlas maksudnya ibadah kita hanya kita tujukan kepada Allah SWT.
Jadi amatlah rugi seseorang yang berperang di jalan Allah namun yang ada dalam hatinya bukan keikhlasan melainkan ingin dipuji sebagai pahlawan pemberani, maka tidak ada artinyalah semua amalan ia di hadapan Allah. Amat rugi juga orang yang berlimpah ilmu dan mengajarkannya dan berdakwah keliling masyarakat namun yang ada di hatinya adalah keinginan agar ia dianggap seorang alim ulama yang dekat kepada Allah oleh masyarakat, itu pun tidak akan ada artinya di hadapan Allah. Begitu pula dengan orang yang bergelimang harta dan menafkahkannya di jalan Allah namun di dalam hatinya ia hanya ingin dikenang masyarakat sebagai orang kaya yang dermawan, semua itu tidak akan bernilai di hadapan Allah.
Oleh karena itu, marilah kita tata niat kita sebelum kita beramal. Jangan sampai kita berpuasa sunnah hanya ingin dianggap alim oleh teman. Rajin shalat tahajjud, shalat dhuha tilawah 4 juz sehari dan amalan-amalan ibadah lain hanya karena ingin dianggap orang yang ahli ibadah. Marilah kita jauhi riya’ (keinginan untuk dilihat orang kebaikan kita) dan sum’ah (keinginan untuk didengar orang kebaikan kita). Karena sungguh hal itu akan mengikis habis nilai amalan kita.
Sebaliknya marilah kita berusaha untuk menjadi pribadi yang ikhlas. Dengan menjadi pribadi yang ikhlas, kehidupan ini akan menjadi indah. Semuanya akan terasa ringan. Tidak akan ada yang mampu menjadikan kita kecewa.
Bagi orang yang ikhlas, semua amalannya dipersembahkan kepada Allah. Sudah susah payah memasak, namun suami tidak mau memakannya juga tidak akan membuat marah istri yang berhati ikhlas. Hal ini bisa terjadi karena ia ikhlas, ia melakukan hal ini karena memang Allah menyuruh istri untuk melayani suaminya dengan baik. berbeda dengan istri yang tidak ikhlas, ia akan merasa dongkol dan kecewa dan itu akan menghilangkan nilai amalannya. Sudah hati kecewa, tidak berpahala bahkan bisa jadi malah berdosa.
Seorang hamba yang ikhlas akan memiliki kekuatan ruhiyah yang amat besar. Ia seakan-akan akan menjadi pancaran energi yang melimpah. Memandangnya mampu menaikkan iman siapa yang melihatnya. Keikhlasannya akan nampak pada raut mukanya yang selalu cerah, tutur katanya lembut, gerak-geriknya pun amatlah terjaga. Kita akan merasa nyaman dan aman di sisi orang yang berhati ikhlas. Kita tidak akan curiga ia akan berbuat curang, menipu kita. Dia benar-benar bersih dari berbuat sesuatu yang penuh rekayasa. Semua tutur kata dan perilakunya tidak ada yang tersembunyi. Dalam hatinya ia ingin berbuat yang terbaik bagi semua orang yang ia temui. Dan semua itu ia lakukan bukan karena mengharap pujian dari makhluk, lebih dari itu ia melakukan itu semua hanya untuk mencari keridhoan Allah semata.
Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :
Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"
Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).
Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"
Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).
Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"
Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).
"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikta.
Allah yang Mahatinggi dan Maha sempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).
Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"
Allah yang Maha gagah dan Maha dahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."
Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.
”Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (QS. An-Nisa:125)
Jadi tunggu apa lagi, mari kita berusaha menjadi golongan mereka yang ikhlas dalam beramal. [elha]

No comments:
Post a Comment