Tahun Baru Bertabur Cinta
Oleh: Lutfi Hakim, Trainer di Mega Brain
Rutinitas itu masih saja ada. Terompet ditiup keras-keras ketika dentang jam menunjukkan tepat di angka 12. Konser musik digelar sampai pagi. Mereka berjingkrak-jingkrak melupakan sejenak beban berat tahun lalu. Mengharap segala peruntungan baik akan mendatangi mereka. Tertawa mereka. Bercanda mereka. Bahkan mungkin sampai lupa daratan mereka. Walaupun entah apa yang mereka rayakan, mereka sendiri pun sebenarnya tidak tahu. “Yang penting heppi” begitu kata mereka.
Ah, tahun baru. Apa bedanya? Adakah sesuatu yang sangat istimewa. Hingga para remaja itu begitu antusias menyambutnya. Ada yang merayakan dengan pasangannya dengan candle light dinner. Ada yang merayakannya dengan pesta bareng dengan teman-temannya. Bahkan “maaf” ada yang menggunakan momen ini untuk menginap di hotel dan meyerahkan mahkotanya kepada kekasihnya meskipun belum menikah. Na’udzubillahi min dzalik.
Lalu apakah kita harus mencaci maki mereka? Apakah kita harus meghukum mereka? Apakah kita harus mencibir mereka? Bahkan apakah kita harus mengecap mereka sebagai ahli neraka? Atau apakah kita harus mendo’akan mereka? Apakah kita harus mendekati mereka? Apakah kita harus tetap istiqomah mendekati mereka dengan cinta?
Nah, jawabannya ada di tangan anda. Namun yang jelas, Rasulullah SAW. Memberikan kita sebuah contoh yang amat mulia. Ketika beliau dilempar batu, dicaci maki oleh penduduk tha’if. Bukan caci maki balik yang beliau lakukan. Juga bukannya permintaan kepada Allah agar dimusnahkanlah mereka. Ya, bukan itu yang beliau lakukan. Beliau justru berdo’a agar kelak, para penduduk Tha’if mendapatkan hidayah. Dan benarlah, di masa berikutnya para penduduk Tha’if menjadi pendukung gerakan dakwah Islam.
Cinta. Ya cinta seharusnyalah yang mendasari kita ketika melihat perilaku para remaja itu. Bisa jadi, mereka melakukan kegiatan-kegiatan itu dikarenakan ketidaktahuan mereka. Dan bisa jadi ketika kita dengan serius mendekati mereka, memberitahukan dengan cinta, dan menjadi sahabat mereka dengan cinta serta tidak lepas mendo’akan mereka dengan cinta maka insyaallah mereka akan menjadi para penerus kita dalam menjunjung tinggi risalah agama ini.
Benci. Bukan benci yang seharusnya kita dengungkan. Karena kalau sudah benci yang kita kobarkan dalam hati kita. Maka pikiran dan gerak kita pun akan menjadi negatif. Jangankan mendekati mereka, menyapa pun kita enggan. Bahkan malah kita sudah yakin mereka kelak akan masuk neraka. Dan kitalah yang masuk syurga.
Aduh duh, bertobatlah kita bila ada benih-benih kesombongan dalam diri ini. Bila belum-belum kita sudah merasa akan masuk syurga hanya dengan amalan-amalan kita yang seadanya kita. Bahkan belum-belum kita sudah mengecap mereka akan masuk neraka.
Nah, mari di momen ini kita do’akan mereka para remaja itu agar mendapatkan hidayah dari Allah. Dan tentu tidak hanya dengan do’a semata. Mari kita perbanyak ilmu, perbesar aura cinta kita kepada sesama sebelum kita mendekati mereka, bersahabat dengan mereka dan membimbing mereka ke jalan yang diridoi Allah. Selamat menempuh hari-hari ke depan dengan penuh cinta. [ ]

No comments:
Post a Comment