Sunday, August 15, 2010

Menjadi Pribadi Pemaaf

Sudah kita pahami bersama bahwa kita adalah manusia biasa. Disebut manusia
biasa adalah bahwa kita tidak luput dari yang namanya salah, lupa dan dosa. Justru
kesalahan kita, kelupaan kita dan dosa kita menunjukkan kita betapa kita adalah
manusia seutuhnya. Manusia bukanlah dia yang selalu berbuat kejahatan terus
menerus, juga bukan ia yang hanya memiliki kejelekan tanpa memiliki kebaikan
seujung kuku pun. Bukan, bukan itu seorang manusia. Sifat-sifat yang disebutkan tadi
mungkin adalah milik syetan.

Manusia juga bukan ia yang bersih seratus persen dari kesalahan. Manusia bukanlah
ia yang tak pernah melakukan dosa seujung kuku pun. Ia pun bukan makhluk yang
tunduk taat seratus persen tanpa pernah membantah apa yang dititahkan oleh Allah
tanpa pertanyaan. Sifat-sifat yang disebutkan itu mungkin pantas bila disematkan
kepada malaikat.

Menyadari sifat sebenarnya dari seorang manusia, kita harusnya menyadari bahwa
tak ada manusia yang sempurna (dalam artian tidak pernah salah dan tidak punya
kelebihan). Jadi sehebat apa pun kita, pastilah kita masih punya kelemahan. Pastilah
kita masih punya kesalahan. Ya, mungkin kita bisa sangat mahir di bidang tertentu;
tetapi bisa jadi kita amat tidak memahami sedikit pun ilmu di bidang lain. Mungkin
kita juga sudah berusaha sekuat mungkin untuk memuaskan semua pihak di sekeliling
kita, namun yakinlah pasti ada saja yang tidak puas dengan apa yang kita lakukan.

Nah, kalau diri kita sendiri masih memiliki banyak sekali kekurangan dan
kelemahan. Diri kita masih sering melakukan kesalahan, dan pastinya kita pun
tidak bisa luput dari yang namanya dosa lalu mengapa kita menginginkan orang
lain untuk tidak berbuat salah. Kalau demikian mengapa kita tidak terima dengan
kesalahan orang lain. Mengapa kita sering marah dengan kealpaan orang lain?

Pastinya hidup kita akan terasa sesak ketika setiap harinya berharap orang lain
harus sesuai dengan keinginan kita. Ada sebuah kata hikmah yang mungki bisa kita
renungkan. Bunyinya seperti ini: “kita tidak bisa mengubah arah angin, namun kita
bisa merubah arah layar kita” atau kata yang ini “kita tidak bisa memaksa orang
lain untuk mengikuti apa yang kita maui tetapi kita bisa memaksa diri kita untuk
menerima apa yang dilakukan oleh orang lain”.

Begitulah, kita sebagai manusia amatlah wajar ketika melakukan kesalahan,
lupa dan dosa. Manusia yang hebat bukanlah dia yang tidak pernah melakukan
kesalahan, tetapi manusia yang luar biasa adalah ketika dia berbuat salah dia
segera memperbaikinya dan memohon maaf kepada orang yang diperlakukannya
dengan salah, ketika dia lupa dia belajar untuk tidak melupakan hal itu lagi dan
ketika dia melakukan dosa ia segera bertaubat memohon ampun kepada Allah.

Adalah orang hebat juga ketika ia menyadari bahwa orang di sekelilingnya adalah
manusia biasa seperti dirinya. Ketika orang lain berbuat salah, lupa atau berdosa
kepada dirinya ia segera memakluminya dan memaafkan perbuatan mereka.
Walaupun sebenarnya ia juga punya kesempatan untuk membalasnya, tetapi ia
memilih untuk tidak mendendam bahkan dengan ikhlas memaafkannya. Subhanallah
perilaku yang sungguh agung persis seperti yang difirmankan oleh Allah dalam surat
Asy Syuura 43 yang menyatakan bahwa mereka yang bersabar dan memaafkan adalah
lebih utama.

Jadi, marilah berlapang dada. Terlebih kita sudah ditempa dalam “sekolah”
Ramadhan. Dan di hari raya idul fitri kita akan benar-benar menjadi pribadi bersih
dengan memohon maaf sepenuh hati dan ikhlas memaafkan segala kesalahan orang
lain kepada kita. Marilah kita menjadi pribadi-pribadi pemaaf, insyaallah hidup ini
akan terasa semakin damai. [elha]


No comments:

Post a Comment