Seringkali kita ditanya apa beda manusia dengan hewan. Dan jawaban yang sering kita lontarkan adalah adanya akal yang dimiliki oleh manusia. Dengan akal pikiran inilah manusia mampu menciptakan hal-hal baru agar kehidupannya semakin hari semakin mudah. Lihatlah burung yang dari dulu hingga sekarang selalu membuat sarang yang sama, bedakan dengan manusia yang memiliki kreatifitas luar biasa dalam membangun rumahnya.
Manusia memang diberikan karunia yang luar biasa oleh Allah SWT. Manusia memiliki setidaknya tiga potensi yang kalau digunakan dengan baik maka akan sempurnalah dia menjadi manusia. Ketiga potensi itu adalah berupa jasad, akal dan hati.
Jasad manusia kalau kita lihat benar-benar sempurna. Bahkan dalam al-qur’an surat At-Tiin ayat 4 Allah menyebutkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Namun tubuh yang bagus saja tidaklah cukup bagi kita untuk membanggakannya. Lihatlah betapa banyak orang yang merenggut dosa dikarenakan tubuhnya yang seksi. Beberapa dari mereka yang merasa seksi atau cantik malah mengumbar tubuhnya itu untuk dinikmati oleh manusia lain.
Bagaimana dengan potensi akal. Akal memang luar biasa. Namun perlu kita renungi kembali. Bukankah orang jahat yang pintar itu jauh lebih berbahaya daripada penjahat yang bodoh. Paling-paling penjahat bodoh hanya mencuri ayam, sudah begitu ketangkap lagi. Nah, kalau dia penjahat pintar, ia bisa saja mengkorupsi uang rakyat bermilyar-milyar dan masih saja nyaman menikmati hidup ini.
Akhirnya, ternyata potensi yang amat penting adalah potensi kita yang bernama hati. Akal memerintahkan tubuh untuk melakukan apa yang ia mau. Dan pembimbing keduanya adalah hati ini. Pantaslah bila Rasulullah SAW bersabda bahwa ada segumpal daging dalam tubuh kita yang apabila ia baik maka baiklah semua tubuh ini dan apabila jelek maka jeleklah semua tubuh ini, ia adalah hati.
Pembaca, ketika ketiga potensi yang ada dalam diri kita itu kita olah sedemikian rupa maka insyaallah akan menjadi kebaikan semata pada kehidupan kita. Ketika akal pikiran kita asah sedemikian rupa maka insyaallah kita dapat menjadi ahli ilmu, ahli pikir. Bukankah Allah sendiri menjanjikan akan meninggikan derajat mereka yang beriman dan berilmu (Al Mujaadilah:11). Yakinlah, ketika kita benar-benar mau mengasah ketajaman otak kita, maka sesungguhnya otak ini akan mampu menyerap demikian banyak ilmu. Dan segeralah kita berlomba-lomba menjadi ahli ilmu.
Pepatah mengatakan ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Begitulah, orang berilmu sejatinya bukanlah sebanyak apa yang telah ia ketahui namun sebanyak apa yang telah ia amalkan. Orang berilmu mengarahkan fisik(tubuh)nya untuk bergerak mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari. Ia berusaha sekuat mungkin melaksanakan apa yang telah ia kuasai. Jadi ia tidak menjadi orang yang bertipe omdo (omong doang). Dengan berusaha mengamalkan ilmu yang telah dimiliki, harapannya kita dapat menjadi ahli ikhtiar. Menjadi seorang manusia yang tidak hanya berpangku tangan tetapi aktif berikhtiar dalam menjalani hidup ini.
Namun lagi-lagi kunci utamanya adalah ada di hati. Meskipun ia nampaknya orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya itu belumlah tentu itu semua akan diterima oleh Allah SWT. Semua ilmu dan amalannya itu akan sia-sia saja manakala tidak didasari oleh keikhlasan. Jadi kunci akhirnya tetap kembali kepada hati yang bersih. “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”(Asy Syu’araa’: 87-89). Dengan selalu menata hati dengan mengingat Allah diharapkan kita akan mampu menjadi ahli zikir.
Akhirnya, kita harus mensinergikan ketiga potensi itu. Marilah kita berusaha menjadi ahli pikir, ahli ikhtiar dan ahli zikir. Ketika menghadapi masalah, carilah ilmunya untuk menghadapinya kemudian bergeraklah untuk menggenapkan ikhtiar kita dan terakhir hati kita pasrahkan kepada Allah SWT. Dengan begitu insyaallah kita akan berjalan di rel yang benar. [elha]
ummul quro, edisi mei 2009

No comments:
Post a Comment